Share This Post

Politik

89 Tahun Sumpah Pemuda dan Politik Kebajikan

89 Tahun Sumpah Pemuda dan Politik Kebajikan
Tidak satu bangsa pun di dunia yang berani menafikkan peran pemudanya, termasuk dalam kehidupan kebangsaan Indonesia. Sejak masa sebelum kemerdekaan sampai mengisi kemerdekaan, pemuda selalu berada di garda terdepan, menjadi aktor sekaligus sutradara dari perubahan yang terjadi.
Mari kita coba ingat kembali peran pemuda yang pertana pada 1908-1928 pemuda memainkan peran sebagai pemersatu. Pada periode tersebut pemuda mendirikan Budi Utomo dan mencetuskan Sumpah Pemuda yang menjadi jalan lahirnya pergerakan nasional. kedua, tahun 1945-1948, pemuda mengambil peran kepejuangan dengan menunjukkan patriotismenya pada bangsa dan negara, mereka menjadi pembela kemerdekaan negara yang gigih dan tangguh bahkan dihadapan gempuran agresi militer Belanda
Selanjutnya peran pemuda yang ketiga terjadi tahun 1966, 1974, dan 1998. Pada fase ini terlihat pemuda menjadi kekuatan pengontrol dan pendorong perubahan yang efektif termasuk pada 1998 yang berhasil menumbangkan Orde Baru setelah 32 tahun berkuasa dan membidani lahirnya gerakan reformasi. Wajar jika Soekarno mengatakan beri aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia.
Hari ini adalah peringatan Sumpah Pemuda yang ke-89. Terdapat sejumlah isu yang harus menjadi kajian serta bahan refleksi kita bersama terutama persatuan dan kesatuan di Tanah Air. Kita generasi hari ini berhadapan dengan ancaman terorisme, radikalisme, intoleransi, politik identitas yang dapat mengkotak-kotak bangsa sehingga pada akhirnya bisa melahirkan perpecahan.
Turunnya Indeks Demokrasi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indeks demokrasi Indonesia terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Secara berturut-turut Indeks demokrasi Indonesia pada 2015 berada di angka 73,04 kemudian pada 2016 menurun menjadi 72,82 dan terakhir pada 2017, indeks demokrasi kembali menurun ke angka 70,09. Salah satu faktor menurunnya indek demokrasi ini adalah aktor atau perilaku masyarakat sendiri terutama dalam berbagai perhelatan demokrasi seperti Pilkada atau Pemilu. Dalam hal ini menguatnya politik identitas dengan berkembangnya isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) pada masa kampanye menjadi penyebab turunnya indeks demokrasi kita.
Dalam sebuah ruang bernama demokrasi politik identitas memanglah merupakan sebuah keniscayaan misal orang memilih berdasarkan agama, suku, rasa tau golongan. Akan tetapi memanfaatkan SARA sebagai isu dalam sebuah perhelatan politik juga memiliki potensi yang merugikan yaitu perpecahan dan hilangnnya persatuan kita sebagai sebuah bangsa
Sejarah politik identitas sebenarnya merupakan reaksi atas ketidakadilan yang dirasakan oleh golongan tertentu dalam sebuah masyarakat yang kemudian memicu perlawanan atas ketidakadilan tersebut. Artinya politik identitas yang sejatinya merupakan perjuangan rakyat dalam mengaktualisasikan karakteristik khasnya, sebagai bagian dari upaya untuk saling memperkaya dialektika wacana dalam konteks kompetisi politik, berubah menjadi ajang untuk saling mengunggulkan dominasi kelompoknya atas kelompok lain. Kontestasi yang seharusnya saling beradu ide, gagasan dan konsep yang konstruktif, tetapi malahan saling menjatuhkan lawan dengan isu SARA yang bersifat destruktif bagi pembangunan sebuah bangsa.
Hari ini politik identitas sekedar alat memanipulasi guna memenuhi kepentingan ekonomi dan politiknya. Politik identitas digunakan oleh sebagian elit politik untuk menggalang kekuatan massa dan menjatuhkan lawan politiknya yang notabene berbeda identitasnya melalui berbagai rangkaian propaganda yang dikemas melalui komunikasi politik nan piawai dan menembus alam bawah sadar pendukungnya.
Maka sangat masuk akal kemudian dengan adanya pihak-pihak yang secara massif mengolah politik identitas dan isu SARA indeks demokrasi kita menurun. Lebih dari itu manuver politik tersebut secara tidak langsung ingin mengorbankan keutuhan Negara demi memenangkan sebuah ajang kontestasi politik baik itu berupa pemilu atau pilkada. Alhasil kita juga bisa menyaksikan merosotnya toleransi masyarakat akan keberagaman dan meningkatnya intoleransi.
Politik Pemuda, Politik Kebajikan
Kita pemuda hari ini jelas harus mengambil peran. Politik anak muda haruslah sesuatu yang baru, segar, kreatif, inovatif dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan yang selama ini kita jaga dan pelihara. Namun “Jika mata dibalas dengan mata maka seluruh dunia akan buta” tulis Gandhi. Artinya kekerasan biar pun itu bersifat verbal tidak perlu dilawan kembali dengan kekerasan. Dalam hal ini tidak mungkin kita melawan SARA dengan SARA, melawan intoleransi dengan intoleran pada mereka yang intoleran.
Politik identitas yang saat ini dijadikan alat memang mencoba melakukan kekerasan dengan menciptakan batas-batas identitas, memaksa masyarakat untuk membangun persepsi, bersikap dan bertindak sejalan dengan kesadaran akan identitas sebagaimana yang diharapkan para pelaku politik identitas. Pada akhirnya kekerasan hadir dimana-mana (omnipotent) , dan dalam berbagai bentuk dan ekspresi. Bahkan kekerasan sudah menjadi spiral kekerasan. Kekerasan mereproduksi kekerasan baru.
Telah terjadi kekerasan simbolik dimana misal seakan-akan sebagai contoh orang dengan agama tertentu harus memilih berdasarkan agamanya dengan mengacu pada sebuah penafsiran ekslusif atas teks-teks agama. Atau orang dengan suku dan ras tertentu seakan diharuskan memilih sesuai dengan kesukuan dan rasnya atau mereka tidak menjadi bagian dari kelompok mereka. Lalu melalui Hoax atau disinformasi masyarakat diajak untuk meyakini kebenaran palsu atas ketidakadilan yang dirasakannya. Hal tersebut memicu lahirnya sentiment-sentimen kelompok yang kemudian digiring pada pilihan-pilihan tertentu yang sejalan dengan rasa ketidakadilan palsu tersebut.
Untuk itu tak ada jalan lain bagi kita selain bersikap jujur pada diri kita sendiri, pada kenyataan yang sesungguhnya. Kita pemuda tak perlu terbawa oleh arus permainan yang penuh kekerasaan itu. Akan tetapi lebih mengokohkan pondasi kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan ditengah-tengah masyarakat. Intoleransi harus kita balas dengan menunjukan sikap-sikap hangat dan toleran, Hoax dan diinformasi kita balas dengan kejujuran dan sikap apa adanya tanpa memaksakan kebenaran-kebenaran kita sendiri, politik identitas kita balas dengan kerja keras dan menunjukan keadilan serta ketidakadilan sesungguhnya yang terjadi dalam masyarakat. Dengan kata lain kita tak perlu bersikap reaktif.
Generasi muda haruslah progresif dan proaktif dalam memandang setiap persoalan. Inilah saatnya kita mengingat kembali sumpah para pendahulu kita untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu. Tidak ada pribumi atau non pribumi, tidak ada muslim atau non muslim, dan tidak ada primordialisme sebab dalam konteks berbangsa dan bernegara kita adalah satu yaitu Indonesia.

Share This Post

Leave a Reply

Lost Password

Register

Social Login