Share This Post

Random

Behaviorisme: Jalan Menuju Teknologi Kelakuan

Bagi beberapa orang yang terlampau percaya pada dunia batin dan kebebasan mutlak manusia, teknologi kelakuan bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi mereka yang berpikir seperti laba-laba, yaitu membuat jaring pemikiran sebagai tempat berteduh dan menangkap mangsa. Menganggap isi perut mereka sebagai pemikiran murni kemudian sampai pada kesimpulan yang membenarkan pikiran mereka sendiri. Orang-orang seperti itu akan terganggu ketika keyakinan mereka -meskipun memiliki justifikasi rasional yang lemah- anggap keliru, sebab pikiran tak lebih dari alasan, legitimasi bagi disposisi psikologis yang barangkali tak sepenuhnya disadari. 

Sayangnya demikianlah cara sebagian besar dari kita berpikir sekaligus meyakini, dunia batin selalu menjadi tempat berteduh terakhir bahkan filsafat abad 4 SM sampai hari ini, seperti dikeluhkan B.F Skinner tidak pernah beranjak dari dunia batin serta penolakan atas realitas objektif. Hasilnya, ketika ilmu fisika dan hayat manusia (biologi) mencapai kemajuan luar biasa dalam 2000 tahun terakhir, ilmu kelakukan manusia tetap berjalan di dunia batin dengan spekulasi-spekulasi metafisis yang berputar-putar. Pengkhotbah guru, ahli etika pun kemudian terus berbicara tentang imperatif-imperatif etis dengan keyakinan terhadap ‘kesadaran’ dan ‘otonomi’ manusia meski selalu mengecewakan. Barangkali seandainya Socrates dan Plato hidup kembali mereka akan mati keheranan karena sampai hari ini cara kita berpikir tentang manusia masih relatif sama dan tidak berkembang selama berabad-abad. 

Teknologi Kelakuan 
Berangkat dari kenyataan bahwa dalam hal ilmu kemanusiaan, pandangan tradisional mengenai ‘dunia batin’ begitu mendominasi, menjadi dogma umum dalam etika namun tidak lagi memadai. Skinner menyatakan bahwa kita butuh sebuah teknologi kelakuan. Kata ‘teknologi’ sendiri memang menyiratkan adanya serangkaian teknik yang diciptakan dan dapat digunakan ulang demi kepentingan manusia. Hal tersebut identik dengan dunia fisik. Tetapi Skinner menegaskan bahwa teknologi kelakuan merupakan sesuatu yang mungkin. Pavlov dan rekan-rekannya melalui serangkaian eksperimen menunjukkan bahwa organisme dapat dikendalikan melalui rangsangan-rangsangan spesifik. Organisme selalu memberi jawaban tertentu atas rangsangan tertentu sehingga dengan cara itu pawang dapat membuat harimau melakukan berbagai loncatan dalam sirkus. Dengan demikian, penelitian Pavlov menjadi landasan awal bagi munculnya teknologi kelakuan atau biasa disebut behaviorisme.

Atas dasar fakta eksperimental, disinilah manusia harus melepaskan dua gagasan kesayangannya yaitu gagasan bahwa manusia itu “bebas” dan bahwa pengambilan sikap yang betul (dalam bahasa tradisional bertindak secara moral) menjadikanya orang terhormat. Pandangan mengenai kebebasan pun sekedar menjadi ilusi karena dalam kenyataannya kelakuan manusia memang bisa diramalkan dan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan perekayasaan lingkungan menjadi hal yang mungkin. Dan menurut Skinner gagasan bahwa orang yang -apalagi dengan pengorbanan- bertindak secara “moral“ adalah sesuatu tidak bermanfaat karena pada dasarnya lingkungan ikut menentukan perilaku tersebut. 

Adapun mengapa filsafat dan ilmu-ilmu manusia lain begitu gandrung dengan “dunia batin” ? Pertama, jawab Skinner, karena kita sering mempunyai kesan bahwa tindakan kita sendiri memang ditentukan oleh kita secara otonom. Kedua, karena sulit ditemukan penjelasan lain sehingga penjelasan tentang “dunia batin” menjadi satu-satunya alternatif yang mungkin. Tentang yang pertama Skinner mengkritik sikap subjektif manusia dalam menilai dirinya sendiri, sedang yang kedua mengindikasikan bahwa konsep “dunia batin “ atau “manusia otonom” diperlukan hanya untuk menjelaskan hal-hal yang belum dapat dijelaskan dengan cara lain. Eksitensinya tergantung pada ketdakpengetahuan kita, dan begitu kita mengetahui lebih banyak tentang kelakuan, ia akan kehilangan statusnya. 

Operant Conditioning 
Bertolak dari hal tersebut Skinner menjelaskan teorinya tentang fungsi lingkungan. Bahwa lingkungan lingkungan tidak diperhatikan oleh kita adalah karena cara bagaimana lingkungan menentkan kelakuan kita tidak dimengerti. Model “rangsangan-jawaban” dari behaviorisme klasik tidak memadai. Lingkungan tidak menarik dan tidak mendorong, melainkan menyeleksi. Organisme yang memberi reaksi terhadap lingkungan akan tersingkir. Lingkungan menentukan kelakuan organisme dengan memperkuatnya; kelakuan yang sesuai dengan lingkungan itu diperkuat secara positif, artinya organisme akan mengulanginya, yang tidak sesuai diperkuat secara negatif dalam arti organisme tidak cepat akan mengulanginya. 

Sistem yang ditawarkan G.F. Skinner didasarkan pada “cara kerja yang menentukan” (Operant Conditioning). Setiap makluk dalam pandangan Skinner pasti selalu dalam proses “melakukan sesuatu” terhadap lingkungannya, yang dalam artian sehari-hari berarti ia hidup di dalam dunia, yang melakukan apa yang dituntut oleh hakikat alamiahnya dirinya. Selama melakukan proses “operasi” ini, makhluk hidup tersebut pasti menerima stimulan-stimulan tertentu, yang disebut stimulan yang menggugah, atau dengan singkat bisa disebut penggugah saja. 

Stimulan-stimulan ini berdampak pada meningkatnya proses cara kerja tadi- yaitu perilaku-perilaku yang muncul karena adanya penggugah. Inilah yang dimaksud dengan cara kerja yang menentukan yaitu “sebuah perilaku pasti melahirkan konsekuensi-konsekuensi tertentu, dan konsekuensi ini akan mengubah kecenderungan makhluk hidup untuk mengulangi perilaku yang sama setelah itu dari seho maksud dan tujuannya.” Dengan kata lain, stimulus yang diperoleh individu dari lingkungan akan menentukan apakah individu akan mengulangi perilaku yang sama atau tidak, akan mengalami penguatan perilaku atau sebaliknya melemahkan bahkan menghilangkannya.

Berdasarkan hal tersebut menurut Skinner cara untuk memperbaiki kelakuan manusia bukanlah dengan wejangan, khotbah atau kuliah-kuliah moralitas yang bersifat imperatif semata, melainkan dengan cara merekayasa lingkungan di mana manusia hidup. Suatu perubahan lingkungan akan menghasilkan perubahan kelakuan dengan tepat. Namun Skinner menegaskan bahwa usaha ini hanya akan dilakukan dengan sepenuh tenaga apabila kita dengan berani meleaskan dua kebangga tradisional manusia yaitu keyakinan akan kebebasannya dan kebanggaan atas perbuatan bermoral. Selanjutnya agar hal tersebut bisa terwujud, adalah tugas analisa ilmiah untuk menjelaskan bagaimana kelakuan seseorang sebagai sistem fisik berkaitan dengan kondisi-kondisi di bawahnya manusia berkembang, dan di bawahnya masing-masing individu hidup. Kita menurut Skinner, dapat mengikuti jalan yang diambil oleh ilmu fisika dan hayat dengan langsung memerhatikan hubungan antara kelakuan dan lingkungan dan mengabaikan apa yang dianggap sebagai pengantaraan roh, dunia batin atau hal-hal yang bersifat metafisis dan spekulatif lainnya. Dan dengan upaya-upaya tersebutlah maka teknologi kelakuan menjadi mungkin.

Share This Post

Leave a Reply

Lost Password

Register

Social Login