Share This Post

Random

Berpikir Ala Filsuf

Berpikir Ala Filsuf
Membaca Russel, mengingatkan saya pada diktum Socrates bahwa hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas di jalani. Seperti Socrates, Russel percaya pada kekuatan budi (baca; rasio) manusia untuk memeriksa hidupnya, terutama ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa sebagian besar manusia, hidup dengan setumpuk keyakinan yang berbeda satu sama lain, dan tidak memiliki pembenaran rasional.
Berpikir Rasional
Mengapa kita harus berpikir rasional? Apa pentingnya terus-menerus resah dan memeriksa hidup? Terhadap berbagai pertanyaan tersebut, Russel menjawab bahwa pertama, opini-opini tak rasional memiliki hubungan erat dengan perang dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Menurut Russel, satu-satunya cara di mana suatu masyarakat bisa bertahan tanpa kekerasan adalah dengan membentuk keadilan sosial, dan keadilan sosial bagi masing-masing individu akan tampak sebagai ketidakadilan jika dia terbujuk oleh pandangan bahwa dia lebih superior dibanding yang lainnya. Disinilah pikiran rasional menjauhkan masyarakat dari pandangan-pandangan tersebut, sebab tak ada individu rasional yang akan menganggap dirinya lebih superior kecuali mendalilkan sebentuk rasionalisasi semata.
Kedua, keyakinan-keyakinan yang salah membuat seseorang tidak menyadari tujuan-tujuan baik. Hal tersebut dicontohkan oleh fenomena abad pertengahan, yaitu saat terjadi wabah pes, orang-orang berdo’a di gereja dengan harapan Tuhan akan membuat mereka sembuh, tetapi karena ventilasi gereja yang tidak baik akhirnya wabah pes tersebut malah menyebar dengan baik. Darinya Russel menyatakan bahwa untuk mencapai sebuah tujuan baik seseorang atau masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan prasangka dan takhayul, tetapi memerlukan pengetahuan dan pendasaran-pendasaran rasional sebagai langkah stategis dalam pengambilan keputusan.
Ketiga, kebenaran lebih baik daripada kepalsuan. Ada sesuatu yang buruk dalam mempertahankan kebohongan. Misalnya suami yang ditipu biasanya menggelikan, dan kebahagiaan yang diperoleh dengan penipuan atau pemberdayaan atas diri sendiri cenderung patut ditertawakan dan dikasihani. Selain itu, banyak orang akan marah ketika ditipu dan kenyataan dalam masyarakat menunjukkan kepalsuan melahirkan banyak problem kemanusiaan.
Untuk itulah kemudian seorang individu harus berusaha, sejauh yang ia bisa untuk menghapuskan keyakinan-keyakinan yang hanya bergantung pada ruang-waktu pendidikan, bahkan dari apa yang dikatakan orangtua dan guru. Dia harus memiliki keinginan yang kuat untuk memahami dunia sejauh mungkin; dan demi memperoleh pemahaman, dia harus bersedia menghapus pemikiran-pemikiran sempit yang menghambat diperolehnya persepsi yang benar. Dia perlu belajar berpikir dan merasakan, bukan sebagai anggota kelompok ini atau itu, namun sebagai manusia. Jika dia bisa melakukannya berarti dia mampu melepaskan diri dari batasan-batasan yang berlaku bagi manusia. Ya, Russel sendiri mengamini bahwa hal tersebut nyaris mustahil tetapi sebagai sebuah upaya tetap pantas untuk dijalankan. Apalagi bila mengingat bahwa manusia pada setiap zaman meyakini sesuatu yang dianggap salah pada zaman berikutnya
Sebagai contoh sampai awal zaman modern, semua orang diajarkan bahwa ada salah satu binatang, yang disebut Salamander, yang hidup dalam api. Shakesphere juga mengulang takhayul bahwa katak membawa batu permata di atas kepalanya. Ini bukanlah persoalan-persoalan yang menarik perhatian manusia, namun mengindikasikan hadirnya kesalahan yang ada kaitannya dimana manusia memiliki bias-bias yang relatif besar. Sejarah banyak mencatat tentang keajaiban-kejaiban yang diterima pada zaman sebelumnya namun kemudian tidak bisa diterima nalar manusia modern. Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap zaman cenderung memiliki keyakinan-keyakinan yang salah, sehingga sudah semestinya kita curiga dan bersikap kritis terhadap zaman.
Melatih Intelektualitas dan Emosi
Untuk mewujudkan semua itu, pertama-tama seorang individu harus melatih intelektualitas dan emosinya. Untuk melatih intelektualitas, ia harus memahami logika agar tidak terjebak pada pengambilan kesimpulan yang keliru dan tidak mudah puas. Dalam hal ini, semua orang membuat kesimpulan; dan dalam artian yang lebih kecil, binatang juga melakukannya. Akan tetapi, sebagian besar kesimpulan tersebut dibuat dengan gegabah dan terburu-buru; dan pengalaman-pengalaman masa selanjutnya menunjukkan bahwa kesimpulan itu salah. Orang-orang yang tidak terlatih dalam masalah logika cenderung mengambil kesimpulan-kesimpulan yang tidak memiliki validitas dan menerima saja berbagai opini yang sesungguhnya bertentangan serta tidak memiliki konsistensi logis. Menurut Russel semakin seseorang menguasai logika, akan semakin sedikit opini yang dianggapnya valid dan tidak mudah puas.
Hanya meskipun logika membantu dalam proses pengambilan kesimpulan, ia tidak memiliki landasan aktual dalam kehidupan. Oleh karenanya seorang filsuf juga harus memiliki wawasan yang luas terutama mengenai capaian-capaian ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang diperlukan jika ingin menjadi seorang filsuf adalah ilmu-bukan dalam bentuk pemikiran-pemikiran mendetail, namun dalam bentuk hasil-hasil umum, sejarahnya, dan khususnya metode ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, dalam proses mencari ilmu pengetahuan dan menemukan hukum-hukum ilmiah, setiap hukum yang ditemukan haruslah dianggap sebagai sesuatu yang hampir benar semata hingga terhindar dari sikap dogmatis.
Selain itu, kemampuan untuk mengendalikan emosi tidak kalah penting. Sebab untuk berpikir seobjektif mungkin ia tidak hanya harus sabar untuk tidak gegabah mengambil kesimpulan-kesimpulan prematur. Tetapi juga harus mampu melepaskan diri dari zaman, keyakinan, dan asumsi-asumsi yang telah menjadi bagian dirinya dan terikat secara emosional, terutama bila mengingat bahwa semakin dekat jarak emosional semakin sulit bersikap objektif. Tetapi perlu disadari bahwa mengupayakan sikap objektif bukan berarti tak berperasaan, karena tidak mungkin manusia mampu mencapai sesuatu tanpa memilki perasaan yang kuat terhadap apa yang menjadi tujuannya. Tak kalah penting, dengan melatih emosi kita diajak untuk tidak marah terhadap pandangan-pandangan yang berbeda, atau bersifat kekanak-kanakan terutama dengan bersikap dogmatis dan tidak mau mencoba untuk melihat sesuatu dari perspektif berbeda.
Meskipun demikian, Russel tidak menolak sikap religius. Karena baginya berfilsafat tak lebih dari sikap religius itu sendiri. Dengan berhati-hati dan tidak mudah mengamini sesuatu sebagai kebenaran atau memutlakannya maka, seseorang telah berusaha untuk sampai pada sebuah kebenaran yang pada batas tertentu, mencapai kebenaran sesungguhnya. Sikap religius pun ditunjukkan melalui konsepsi tentang tujuan-tujuan yang menjadi sasaran hidup yang semestinya dimiliki seorang filsuf. Di mana dengan bersikap ilmiah, pencarian pengetahuan tidak dipahami sebagai kesenangan semata tetapi sebagai sebuah bagian penting dari kehidupan yang baik, dan bahwa pengetahuan diperlukan untuk mencapai hal-hal yang bernilai bagi dirinya. Dengan demikian kehidupan moral dan intelektual pun saling terkait.
Hanya setuju atau tidak, Russel melihat bahwa model berpikir matematika sebagai sesuatu yang superior dibandingkan yang lainnya. Ia berpendapat bahwa landasan berpikir yang baik adalah dimana seseorang memiliki jarak emosional tidak terlalu dekat sehingga bisa lebih objektif dan tidak bias. Disini matematikalah yang menjadi jawaban sebab selain tidak terlalu melibatkan emosi di dalamnya- berbeda dengan agama dan sistem keyakinan lainnya, matematika memberikan sebuah model berpikir yang logis dan sistematis.
Menurut Russel, bidang matematika pada dasarnya, terutama di Yunani ditemukan karena alasan-alasan prakis yang benar-benar ingin diselesaikan oleh manusia. Namun kemudian guru-guru mengajarkan matematika seolah-olah tidak memiliki kegunaan praktis sama sekali, melainkan sebagai rumus-rumus yang dihafalkan semata lalu seorang murid pulang setelah gagal menyelesaikannya. Itulah alasan mengapa matematika tidak disukai oleh banyak orang. Padahal dalam banyak hal, selain membantu dalam proses berpikir, matematika seandainya dipahami dan diajarkan dengan benar, dapat membantu menyelesaikan persoalan-persoalan praktis kehidupan. Terlebih bagi orang-orang yang mampu mengapresiasikannya, matematika menawarkan kesenangan yang tak satu seorang moralispun akan mengajukan keberatan.
(Disarikan dari “Berpikir Ala Filsuf” karya Bertrand Russel)

Share This Post

1 Comment

  1. Tulisan yg bagus. Salam kenal.

Leave a Reply

Lost Password

Register

Social Login