Share This Post

Random

G.E Moore : Kembali Kepada yang “Baik

G.E Moore : Kembali Kepada yang “Baik

George Edward Moore adalah seorang filsuf Inggris. Ia juga merupakan seorang Profesor Filsafat di Universitas Cambridge. Pemikiran filsafat dan etika dari Moore ia dapatkan ketika berada di Universitas Trinity pada tahun 1898 dan akhirnya ia melanjutkan pembelajarannya di Universitas Cambridge dalam bidang filsafat mental dan logika pada tahun 1925-1939. Moore menjadi seorang yang terkenal karena pemikiran analisisnya mengenai konsep-konsep akal sehat, sumbangannya terhadap etika, epistemologi, metafisika dan karakter moral. Selain itu, Moore juga terkenal karena pembelaannya terhadap naturalisme non-etis dan penekanannya pada akal sehat dalam metode filosofis.  Antara 1921 dan 1947, Moore menjabat sebagai editor pada jurnal filsafat, Mind. Karyanya yang paling penting adalah Principia Ethica (1903),  Ethics (1912) dan Philosophical Studies (1922).

Moore merupakan salah satu pelopor tradisi analisa bahasa dalam filsafat atau filsafat analitik. Moore memandang bahwa selama ini bahasa filsafat, terutama bahasa filsafat kaum idealis,  semakin membuat orang bingung. Kenyataannya kebanyakan orang, lebih-lebih masyarakat awam, tidak mengerti sama sekali tentang pernyataan-pernyataan filsafat yang selama ini dianggap mempunyai arti yang dalam. Filsafat pun terjebak kedalam lubang hitam, dimana sebenarnya sebagian besar pertanyaan bukanlah sesuatu yang layak dicari jawabannya. Sehingga awal mula kebingungan yang terjadi dalam bidang filsafat lebih banyak ditimbulkan oleh kekeliruan didalam merumuskan persoalan. Moore melihat kebanyakan karya filsafat itu sesungguhnya tidak lebih hanya semacam godaan untuk menjawab persoalan yang kemudian menimbulkan persoalan-persoalan lain tanpa henti-hentinya. Ini terjadi karena pengabaian atas logika dan penggunaan bahasa yang nyaris semena-mena.

Untuk itu Moore memberikan tawaran untuk berhenti mempersulit pemaknaan kata. Sebab, semakin sulit kata itu dimengerti bukan malah menjadikan kata-kata itu lebih memiliki makna yang dalam, malahan yang terjadi kata-kata yang membingungkan ini akan mengaburkan arti yang sebenarnya. Moore mengangkat bahasa sehari-hari sebagai alat untuk berfilsafat. Dengan memperbaiki logika dan mengutamakan penggunaan akal sehat atau common sense, Moore berusaha untuk mengkritik kebiasaan tersebut karena filsafat itu bukan menjelaskan ataupun penafsiran tentang pengalaman kita, melainkan memberikan penjelasan terhadap suatu konsep yang siap untuk diketahui melalui analisa akal sehat. Dengan cara analitis inilah Moore membawa filsafat dari kerancuan bahasa kaum idealis untuk kembali ke dalam tradisi realisme di Inggris.

Filsafat Common sense bagi Moore adalah suatu filsafat yang bertumpu pada kepercayaan universal yang melekat pada setiap manusia. Common sense akan melalukan aktivitas mengetahui tentang objek benda material, benda yang dipercaya keberadaannya dalam dunia yang dapat dipahami secara langsung. Objek benda material yang dialami manusia waktu lalu, sekarang, dan yang akan datang. Pengetahuan yang demikian harus dibangun berdasarkan Common sense. Pengetahuan Common sense adalah pengetahuan manusia yang sesungguhnya -murmi/genuine – berlaku umum dalam kehidupan keseharian manusia. Pengetahuan itu terjadi seolah-olah karena adanya suatu kesepakatan secara umum terhadap obyek pengetahuan ini. Oleh karena itu, tidaklah salah jika pada kesempatan lain common Sense disebut juga sebagai Consensus of Common Opinion  atau kadang kadang disebut juga Common Understanding.

Etika dan Naturalisme Etis

Etika Moore termuat dalam dua buku yaitu Principia Ethica dan Ethicts, keduanya mengutarakan pandangan yang sama hanya pada Ethicts dibuat lebih singkat jelas dan dengan sistematika berbeda. Dengan bukunya Principia Ethica, G. E Moore mempengaruhi secara signifikan orientasi filsafat untuk kembali kepada etika dan menetapkan pola bagi munculnya“gerakan analitik” dalam filsafat modern. Metode analisa bahasa Moore sangat sederhana, ia hanya menerapkan analisa bahasanya ini terhadap konsep-konsep etika yang dikenal dengan istilah “Metaethics” yaitu penyelidikan tentang arti yang terkandung dalam istilah yang terdapat dalam bidang etika. Moore menunjukkan bahwa secara tradisional, teori etika telah didasarkan pada suatu pertanyaan yang belum dianalisis, “Apa arti kata ‘baik’?”

Subjek materi etika pada dasarnya berhubungan dengan pertanyaan apa yang harus dilakukan manusia (etika normatif), pertanyaan tentang apa yang baik atau buruk  dan apa yang benar atau salah (etika nilai), dan pertanyaan tentang apa itu “baik”. Diantara ketiga pertanyaan itu terdapat suatu hubungan logis. Dalam bahasa etika, etika normatif mengandaikan etika nilai. Tetapi untuk mengetahui apa yang bernilai, kita harus mengetahui lebih dahulu nilai itu sendiri apa. Dalam bahasa Moore: untuk mengetahui “Apa yang baik” (the good), kita harus terlebih dahulu mengetahui apa arti “Baik” (good). Dengan demikian jelaslah bagi Moore pertanyaan etik paling mendasar adalah pertanyaan tentang arti kata “baik”.

Moore heran mengapa pertanyaan paling mendasar ini, oleh para filosof sebelumnya, selama lebih dari dua ribu tahun tidak diberi lebih banyak perhatian. Para filosof moral pada umumnya beretika seakan-akan sudah jelas apa yang dimaksud “baik”, tanpa pernah memeriksa dan mempertanggungjawabkan arti yang mereka andaikan itu, lalu membangun pertimbangan etis mereka atas dasar yang keropos itu.  Mereka menurut Moore telah terperangkap dengan mengaitkan “baik” dengan suatu sifat, ciri, atau sesuatu yang mendukung demi menjelaskan apa yang mereka maksud, sedangkan “baik” itu sendiri tak pernah dijelaskan seakan-akan sudah dimengerti. Kaum Hedonis misalnya menjawab; yang baik adalah “yang menyenangkan”, atau dalam rumusan utilitarianisme “the greatest happinest of greatest number”. Aristoteles menjawab “apa yang mengembangkan manusia”, Spencer “searah dengan evolusi”. Hume  dan kaum emotivis mengatakan bahwa yang baik adalah “yang diinginkan”. Satu kelas jawaban yang amat luas, yang oleh Moore disebut etika metafisika, menyamakan yang baik dengan kenyataan adi-duniawi misalnya, “ dengan apa yang diperintahkan Allah” atau “apa yang membawa manusia kesurga”. Semua jawaban tersebut menurut Moore bermasalah, bahkan salah kaprah.

Disini Moore tidak berbicara mengenai apakah pandangan itu benar atau salah, akan tetapi yang salah dari anggapan-anggapan itu adalah menyamakan “baik” dengan ciri-ciri fisik atau metafisik sehingga jatuh pada sebentuk naturalisme. Seperti halnya pandangan yang mendasarkan “baik” pada sifat-sifat fisik, etika metafisika sama-sama mengungkapkan kesalahan naturalistik dengan berasumsi bahwa dengan membuat proposisi tentang hakikat realitas terdalam, mereka dapat mendefinisikan yang baik. Etika metafisika tidak secara akurat membedakan antara praksis dan teoritis, antara apa yang baik dan apa yang harus baik. Model pendefinisian moral seperti itulah yang disebut “naturalisme etis” yang ditandai oleh “kekeliruan naturalis” (The naturalistic Fallacy)

Ciri khas naturalisme etis adalah bahwa pernyataan tentang kewajiban atau kebaikan, jadi penilaian, mau diterjemahkan kedalam pernyataan tentang sebuah kenyataan, sebuah realitas. Naturalisme menjelaskan sifat normatif ke dalam sifat yang deskriptif , yang mengharuskan kedalam yang menjelaskan. Contohnya “membantu ibu itu baik” lalu berarti “membantu ibu itu menyenangkan”, atau “mengembangkan kepribadian orang” , atau “diinginkan” atau “sesuai dengan kehendak Allah”, atau “sesuai dengan hukum kodrat”. Jadi penilaian moral dipahami sebagai sebuah realitas, entah natural, entah supranatural atau metafisik.  Kesamaan semua teori yang termasuk naturalisme etis adalah bahwa mereka menyangkal adanya penilaian moral sebagai suatu kelas pernyataan tersendiri. Apa yang dikritiknya bukan bahwa orang menganggap, misalnya, nikmat atau kehendak Allah sebagai sesuatu yang baik. Yang dikritiknya adalah identifikasi kata “baik” dengan salah satu kenyataan atau realitas tadi.

Dalam mempertimbangkan kekeliruan-kekeliruan naturalis, Pertama, Moore menyatakan jika “baik” identik dengan sebuah keadaan, semua pernyataan yang memakai kata “baik” menjadi tautologi. Misal kalau “baik” itu sama dengan “sesuai kehendak Allah” , maka perintah “berbuatlah sesuai dengan perintah Allah karena itulah perbuatan baik” menjadi “berbuatlah sesuai kehendak Allah karena itu kehendak Allah”. Jelaslah menurut Moore bahwa dengan “baik” kita mau mengatakan sesuatu tentang kelakuan kita, tidak pernah sebuah tautologi. Kedua, Moore menyatakan tentang agumen terbuka. Argumen tersebut berjalan seperti ini, kalau misalnya kita menetapkan bahwa “baik” berarti “ yang memberi nikmat”, tetap masih terbuka pertanyaan : apakah apa saja yang memberi nikmat itu baik? Selalu kita dapat bertanya kembali apakah yang dianggap baik itu memang baik. Maka tidak mungkin baik identik dengan suatu keadaan yang dianggap baik.

 “Baik” dan Bertindak Baik

Dalam rangka untuk mengetahui apakah mungkin untuk mendefinisikan istilah “baik”, Moore mengulas teknik utama dari definisi: (1) definisi dengan contoh atau ilustrasi (misalnya, “pohon jarum” adalah seperti pohon pinus, cemara, atau hemlock), (2) definisi dari sinonim (misalnya, “perawan tua” adalah “wanita yang belum menikah”); dan (3) definisi berdasarkan deskripsi (misalnya, ‘harimau “adalah mamalia karnivora Asia yang besar dari keluarga kucing, warna kuning kecokelatan, bergaris-garis melintang dengan warna hitam). Dalam tujuannya untuk mendefinisikan “baik”, ia menemukan definisi yang menunjukkan contoh atau menyebutkan ilustrasi yang tidak memuaskan, karena ini berurusan dengan hal-hal yang “baik”, bukan dengan arti kata itu. Demikian juga, definisi yang menyajikan ekspresi sinonim untuk “baik” mengelakkan masalah sesungguhnya, karena mereka hanya mengganti satu set kata-kata lain tanpa mengidentifikasi properti yang mereka lihat. Alternatif terakhir, mendefinisikan “baik” melalui deskripsi, juga gagal. Moore memberitahu kita, karena tidak mungkin untuk menemukan perbedaan kualitas disetiap koleksi dan sifat yang dimaksud dengan istilah itu. Kemudian, karena tidak diketahui bahwa definisi itu memuaskan, dan istilah belum memiliki arti, ia menyimpulkan bahwa “baik” tidak dapat didefinisikan. Oleh karenanya, istilah “baik” mengacu pada hal-hal sederhana- itu adalah kualitas primitif dan tereduksi. Moore menegaskan, bagaimanapun, bahwa sementara “baik” tidak dapat didefinisikan sendiri, semua istilah etika lainnya  didefinisikan melalui  hal itu.

Konsep “baik” sebagai sesuatu yang tidak dapat didefinisikan bersesuaian dengan doktrin “realisme etis.” Berdasarkan doktrin ini, ada sifat etis yang ada secara independen dari kesadaran manusia. Untuk Moore, “baik” adalah seperti sebuah realitas tersendiri. Ia ada di dunia nyata seperti halnya keinginan dan pengindaran, kesenangan dan penderitaan manusia. Dalam konteks ini, istilah “baik” mengacu pada kualitas yang sejalan kualitas sensorik. Filsafat realis berpendapat bahwa ketika kita berbicara tentang kualitas sensorik, seperti ketika kita mengatakan, “apel ini merah,”  kata “merah” bukan nama dari jenis tertentu pengalaman, tetapi adalah nama dari realitas objektif buah apel. Realitas tersebut, meskipun tidak secara jelas dialami, namun independen dari persepsi manusia. Dalam teori etika Moore, bagaimanapun, perbandingannya terlalu sulit, karena “baik”, tidak seperti kualitas sensori, tidak dapat dibayangkan “seperti yang ada dengan sendirinya dalam waktu”. Oleh karena itu realitas obyektif “baik” bersifat instrinsik, yaitu absolut dan tidak berubah, dalam arti bahwa “ketika sesuatu memilikinya …. itu tentu akan atau harus selalu dalam segala keadaan, memiliki dalam tingkat yang sama persis”.

Dari “baik” (good) harus dibedakan benda atau realitas yang baik (the good). Percampuran kata “baik” dengan “realitas yang baik” adalah kekeliruan naturalistik. Ada benda yang lebih dan kurang baik. Kadar kebaikan sebuah benda tidak ditentukan oleh kebaikan bagian-bagiannya. Bisa saja terjadi bahwa kebaikan dua benda yang masing-masing memiliki kebaikan rendah seperti misalnya nikmat dan pengetahuan. Memiliki kadar kebaikan tinggi kalau dipersatukan sebagai pengetahuan yang member nikmat. Inilah teori yang disebut “organic wholes”, satuan-satuan keutuhan organisYang dimaksud adalah nilai suatu keutuhan jangan dianggap sama dengan jumlah bagian-bagian. Kesatuan yang terbangun atas beberapa bagian dapat memiliki nilai jauh lebih tinggi daripada jumlah sisa satuan masing-masing 

Moore menegaskan bahwa penilaian moral, apakah dan sejauhmana sesuatu itu baik dan buruk, bersifat seratus persen objektif dalam arti tidak tergantung dari selera, perasaan atau insting yang menilai. Maka, dua realitas yang secara hakiki sama pasti sama baiknya. Dan sama seperti arti kata “baik” yang hanya bisa diketahui secara intuitif, begitupula apakah sebuah realitas baik pada dirinya sendiri hanya dapat diketahui secara intuitif. Tidak ada kemungkinan untuk memberikan secara argumentatif bahwa sebuah realitas atau tindakan itu baik. Dalam bab terakhir bukunya, Moore tanpa banyak argumentasi menegaskan –atau mengajak kita agar mau melihat- bahwa ada dua realitas yang baik dan 3 realitas yang buruk pada dirinya sendiri. Yang instrinsik baik, dua-duanya  berupa suatau keadaan atau bentuk kesadaran kita, yang pertama adalah “ Kenikmatan hubungan antara manusia” , yang kedua “penikmatan estetik atas objek-objek yang indah”. Realitas yang secara instrinsik buruk yaitu pertama mengamati dengan rasa kagum hal-hal yang sendiri jahat atau jelek.  Kedua, kebencian terhadap hal-hal indah. Ketiga rasa sakit. 

Menurut Moore ada hubungan erat antara “baik” dan keharusan moral. Apapun yang baik memiliki cari yang mengandung keharusan. Begitu kita berhadapan dengan sesuatu yang baik kita mrenyadari sekaligus bahwa yang baik hendaknya dilaksanakan . Maka baik memiliki kedekatan dengan benar. Kelakukan yang benar adalah selalu kelakuan yang menunjang yang baik. Jadi, kita harus bertindak sedemikian rupa hingga mencapai “hasil-hasil yang sebaik mungkin” Atau lebih tegas lagi “ Kewajiban kita hanya dapat ditentukan sebagai tindakan yang akan menghasilkan adanaya lebih banyak akibat baik dialam semesta daripada segenap kemungkinan lain. Itulah kenapa pada akhirnya etika Moore sering disebut juga “Utilitarianisme Ideal”: Utilitarian karena dinyatakan wajib bertindak sedemikian rupa hingga menghasilkan akibat yang sebaik mungkin dialam semesta, ideal karena tujuannya bukan maksimalisasi nikmat melainkan maksimalisasi nilai.

Share This Post

Leave a Reply

Lost Password

Register

Social Login