Share This Post

Random

Toleransi dan Tawa Tuhan

Toleransi dan Tawa Tuhan
“Manusia berpikir, Tuhan pun tertawa”, tulis Milan Kundera. Benarkah Tuhan tertawa saat kita manusia berpikir? Sebagai sebuah kenyataan faktual tentu kata-kata tersebut mengada-ngada dan malah absurd. Bahkan saya yakin bahwa tidak ada seorang pun yang mampu membuktikan secara faktual kebenaran kata-kata, yang disitir Milan Kundera dari sebuah peribahasa Yahudi tersebut. Tapi toh kita masih bisa memaknainya paling sebagai sebuah metafor, sebagaimana diungkapkan pula oleh Kundera sendiri, bahwa sesungguhnya “tiada kemajuan yang mungkin dicapai manusia tanpa kemampuan menertawakan diri sendiri”
Desakralisasi

Saya ingat Umberto Eco, “Tertawa adalah desakralisasi” katanya. Abad keimanan atau biasa disebut Dark Age digantikan oleh abad nalar atau modern. Descartes memulainya dengan adagium, “Aku berpikir, maka aku ada”, ketika itu manusia mulai mengukur segalanya dengan nalar atau rasio. Dogma-dogma agama dikritisi, ilmu pengetahuan mulai dibangun, dan manusia memandang kemajuan dengan suasana optimis. Meski demikian, kesadaran modern seperti halnya abad pertengahan masih bergulat dengan pencarian kebenaran atau logos. Agama tradisional dikesampingkan namun muncul agama-agama rasional berupa komunisme, fasisme, kapitalisme dsb yang tak kalah totaliter dan mengkorupsi kemanusiaan. Ilmu pengetahuan dikultuskan meski pada akhirnya manusia acapkali membuat alam marah dan menimbulkan masalah ekologis sampai hari ini. Guna menjawab pertanyaan di atas, sinilah kita semestinya mulai tertawa. Kenyataan, kemajuan selalu tak pernah benar-benar kemajuan dan rasionalitas manusia ternyata juga mengandung irasonalitasnya. Manusia harus arif bahwa kesempurnaan tak pernah menjadi miliknya, termasuk kesempurnaan kebenaran yang dimilikinya entah berupa agama, ideologi, atau pandangan filsafat semata.

Perang agama, the holocaust yang menghancurkan umat Yahudi pada abad yang lalu, kehancuran menara WTC pada 11 september 2001, dan segala teorisme (“bunuh-diri” atau bentuk lainnya) sangat erat hubungannya dengan pemutlakan pandangan suku, bangsa, atau agama tertentu. Dengan pemutlakan tersebut maka pandangan orang lain dilihat sebagi ancaman yang harus diserang dan dihapuskan. Segala cara dan alat lalu menjadi sesuatu yang suci guna mencapai sebuah tujuan. Maka, pantaslah kemudian semua itu ditertawakan saja sebagai manuver-manuver sok serius dari orang-orang yang merasa benar sendiri atau “Agelaste”, kata Kundera.

Hal tersebut seolah mengulang kembali penegasan Nietszche bahwa “Kebenaran merupakan kekeliruan yang tanpanya manusia tidak dapat hidup”. Manusia adalah makluk yang bisa salah, maka kebenarannya pun bisa jadi hanyalah kekeliruan. Sehingga kemampuan menertawakan diri, tak lebih dari kemampuan untuk melihat kesalahan-kesalahan dalam diri sendiri dan mengamini bahwa sebagai manusia kita bisa salah. Semacam kemampuan untuk tidak takabur, melulu hidup dalam sangkar sakral yang tertutup. Dan tertawa merupakan sikap untuk tidak terlalu menganggap serius segala sesuatu, terlebih menjadi sebuah anggapan bahwa dunia hanyalah sebuah lelucon belaka.

Iblis-iblis
Milan Kundera adalah seorang Novelis, menurutnya terdapat 3 iblis yang dapat merusak semangat revolusiner novel, yang pertama egalaste, mereka yang tak bisa tertawa dan menerima kebenaran secara terbuka. Mereka menolak kebenaran sebagai sebuah pencarian dan mengharamkan pertanyaan. Dari yang pertama tadi Kundera menemukan iblis kedua yaitu ketidakmampuan berimajinasi, sedang yang ketiga adalah kitsch, yang menyalin kebodohan menerima ide tanpa berpikir ke dalam bahasa keindahan dan perasaan.

Iblis pertama dan kedua melahirkan dogmatisme, sikap ekslusif, dan otoriter terhadap klaim-klaim kebenarannya sendiri. Sedang ketidakmampuan berimajinasi berdampak pada perilaku-perilaku destruktif karena tidak mampu mengimajinasikan sebuah kehidupan yang lebih baik tanpa kekerasan, pada akhirnya terlahirlah terorisme, rezim-rezim kekerasan, dan peperangan.

Adapun iblis yang ketiga yaitu kitsch, merupakan sebuah pendiktean atas gaya hidup yang mesti diikuti agar setiap orang menjadi normal dan tidak ketinggalan zaman. Setiap orang harus ngepop dan “gaul” agar tidak aneh. Kitsch di sini menelan individu dalam sebuah kerumunan kolektif sehingga kebutuhan manusia akan individualitas, privasi, dan orisinalitas menjadi lenyap komunalitas tanpa makna. Identitas Kitsch semata datang dari pencitraan yang dibentuk sedemikian rupa agar dihargai, dianggap normal namun kehilangan identitas yang sesungguhnya. Gaya hidup gaul yang sering di dengung-dengungkan oleh beberapa generasi muda saat ini , dengan budaya popnya, menunjukkan bagaimana kitsch sesungguhnya telah menjadi karakteristik kehidupan kita hari ini. Bahkan pesta demokrasi menjadi sebuah ajang di mana kitsch, dengan segala pencitaannya, diperlakukan sebagai agama.

Meski kundera berbicara konteks sebuah novel namun bukan berarti tidak memiliki relevansi dengan kehidupan nyata. Agelaste, ketidakmampuan berimajinasi, dan kitsch menurut Kundera, ketiganya mengekang keunikan dan upaya individu untuk mencapai otentisitas. Untuk itu, bagi Kundera terdapat 3 kebajikan utama yang wajib dikembangbiakkan manusia yaitu: toleransi, humor dan imajinasi.

Toleransi membuat manusia senantiasa terbuka terhadap perbedaaan dan pertentangan-pertentangan kebenaran yang hadir di hadapannya. Humor merupakan kemampuan untuk melihat dunia dalam kacamata seorang anak kecil yang bermain-main dan tidak pernah menggangap segalanya dengan terlalu serius. Sebuah sikap di mana kita senantiasa tersadar bahwa kehidupan merupakan sesuatu yang tidak pernah bisa dipahami seutuhnya dan kebenaran-kebenaran yang kita miliki tidaklah semutlak yang kita bayangkan. Sedangkan, imajinasi membantu manusia untuk membayangkan sebuah kehidupan yang lebih baik dan tentu dengan cara-cara kreatif serta konstruktif.

Sekarang di dalam konteks apakah kita harus meletakan “tawa Tuhan”? Tentu dalam sikap sok serius manusia serta ketidakmauannya untuk berpikir dan berimajinasi. Di sini berpikir tidak pandang sebagai sebuah pencarian kebenaran yang terlalu serius sehingga dengan keras menganggap salah yang lainnya. Tetapi berpikir dan mencari kebenaran, diperlakukan sebagai sebuah rasa ingin tahu anak kecil yang polos, di mana dengan sikap terbuka mau mengoreksi setiap kesalahan (menertawakannya) serta mampu bertoleran terhadap kebenaran-kebenaran lain.

Dengan demikian, “tawa Tuhan” mengandung sebuah semangat untuk dengan berani memperlakukan ironi-ironi, paradoks-paradoks, dan ambiguitas yang hadir dalam kehidupan manusia sebagai sebuah lelucon yang kiranya lebih enak ditertawakan beramai-ramai daripada melulu dipertengkarkan.

Share This Post

7 Comments

  1. Senang membaca artikel anda bro…salam kenal..

  2. Jadikan bangsa ini yang berlandaskan pancasila saudaraku.
    artikelnya mantap nih ☺️☺️

  3. Renyah dan menyegarkan bro.
    Ditunggu tulisan2 berikutnya ?
    Salam kenal ??

  4. 1

  5. Terima kasih atas pencerahannya, bagus bro.

Leave a Reply

Lost Password

Register

Social Login